Cerpen
Kebahagiaanmu Kebahagiaanku
Pagi yang
indah, burung-burung beterbangan di atas mengelilingi desa. Angin berhembus
sepoi-sepoi menggoyangkan daun pepohonan. Begitulah desa yang ditinggali oleh
Aku dan keluargaku serta warga yang lain. Pemandangannya indah dan suasananya
juga menentramkan. Aku tinggal bersama ayah, ibu, kakak, dan adikku. Rumahku dikelilingi
oleh banyak pepohonan dan hewan-hewan, sebab kami memiliki kebun sayur dan
buah-buahan, peternakan ayam, kambing dan ikan serta sebuah ladang untuk
bertani. Aku terlahir dari keluarrga sederhana tapi bagiku itu bukan suatu
masalah. Meski kami bukan termasuk kalangan menengah ke atas, tetapi kami tak
pernah merasa kekurangan dan malah kami sering berbagi dengan warga yang lain
jika hasil panen kami melimpah.
Ayahku adalah seorang petani, sedangkan ibuku hanya seorang
ibu rumah tangga. Aku, adikku dan kakaku masih sekolah. Kakakku SMA, Aku SMP
dan Adikku baru TK. Sekolah kami memang jauh, sebab di desa kami belum ada
sekolah yang formal jadi kami harus naik sepeda ke kota untuk sekolah. Jarak
desa ke kota sekitar 5 KM, lumayan jauh tapi syukurlah jalan untuk ke sana
sudah diaspal sehingga memudahkan warga jika ingin ke kota.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah kami berbagi tugas
untuk mengurus kebun dan peternakan. Aku dapat tugas menyiram kebun dan adikku mengumpulkan
dedaunan yang kering. Sedangkan kakakku memberi makan ternak. Setelah semua
pekerjaan itu selesai kami langsung berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat
kami berpamitan kepada ayah dan ibu.
“Ayah, Ibu kami berangkat sekolah dulu ya.” Kata kakakku
sambil menyalami mereka.
“Doakan anak-anakmu agar berhasil ya ayah dan ibu.” Ucapku
yang juga menyalami mereka.
“Iya, ayah dan ibu selalu mendoakan kalian. Jaga diri kalian
dan jangan pernah menyerah ya.” Kata ayah kepada kami
“Assalamu’alaikum.” Kata Kakak
“Wa’alaikum salam” Jawab ayah dan ibu serempak.
Kami pun pergi ke sekolah menaikki sepeda. Sepeda kami hanya
satu, jadi kakakku yang mambawa aku dan adikku. Karena sekolahku lebih dekat
jadi aku lebih dulu sampai ke sekolah. Setelah itu baru sekolah adikku,
kemudian sekolah kakakku.
Kami sekolah sambil jualan buah dan kue. Buahnya dari hasil
kebun sedangkan kue buatan ibu sendiri. Pada awalnya aku sempat minder dengan
teman-temanku, sebab teman-temanku hampir semua berasal dari keluarga menengah
ke atas. Meski begitu aku tetap punya banyak teman, aku sangat bersyukur karena
masih ada orang yang mau berteman tanpa melihat status sosialnya seperti aku.
Aku sekarang sudah duduk di kelas VIII A, aku bisa masuk
sekolah ini pun karena mendapatkan beasiswa dari sekolah. Sehingga dapat
mengurangi beban keluargaku. Aku ingin terus menuntut ilmu kalau bisa sampai S
2, aku juga ingin menjadi seorang penulis dan designer yang hebat. Aku teringat
pesan ayah ketika makan malam.
“Ani, kamu harus sungguh-sungguh sekolah. Ayah ingin melihat
kamu menjadi orang yang berguna.” Kata Ayah kepadaku. Menurut beliau orang yang
berguna itu berarti sudah sukses sedangkan orang yang sukses belum tentu
berguna bagi orang lain. Saat itu aku hanya diam, aku tidak bisa menjawab
apa-apa. Tapi aku bertekad agar bisa mewujudkan keinginan ayahku.
Hari demi hari telah kami lalui,
kakakku sekarang sudah selesai SMA dan dia memilih untuk bekerja dulu baru
kuliah. Dan aku sekarang duduk di bangku SMA serta adikku sudah duduk di SD.
Kebiasaan kami selalu sama yaitu sekolah sambil berjualan, bedanya adalah aku
dan adikku yang bersepeda ke sekolah sedang kakakku dia sibuk bekerja membantu
ayah menghidupi keluarga.
Di SMA aku memilih
jurusan IPS itu pun sesuai dengan kehendak ayahku, karena bagiku keinginan
orangtua itu terbaik untuk anaknya seperti halnya aku. Memang benar di sekolah
aku selalu meraih peringkat pertama dan menjadi juara umum siswi yang meraih
nilai tertinggi di jurusan IPS. Tibalah saat ujian, baik itu UAS maupun UAN,
ketika itu aku belum punya uang untuk membayar administrasinya. Sedangkan kebun
dan padi belum panen. Aku tak ingin membebani keluargaku, jadi habis sekolah
aku berjualan koran dan mengangkat jualan ibu-ibu yang berbelanja di pasar.
Syukurlah meskipun hasilnya sedikit tapi kalau dikumpulkan akan menjadi banyak.
Di sekolah
ada siswi yang kurang suka kepadaku dan aku tak pernah menghiraukannya. Sampai
ketika uang yang aku kumpulkan tadi hilang. Aku benar-benar panik, langsung kulaporkan
kepada ibu wali kelasku. Meskipun bagi orang kaya uang sebesar RP65.000,- itu
kecil tapi bagiku itu sangat besar. Perjuangan untuk memperolehnya sangat
susah.
“Maaf bu, apakah ibu bisa membantu saya, uang saya untuk melunasi
administrasi hilang bu. Tetapi saya tidak tahu di mana uang itu hilang.” Kataku
kepada Ibu wali kelas.
“Uang segitu aja dicariin, makanya jangan sekolah di kota
tau.” Kata Sofi teman sekelasku yang paling kaya diantara kami. Dia yang suka
iri kepadaku karena aku sering menjadi juara dan para guru suka kepadaku. Dia
juga sering ngerjain aku tapi tak pernah aku balas. Biar nanti dia sadar
sendiri.
“Sofi diam !, baik Ibu akan mengadakan rajia di kelas.” Kata
Ibu wali kelas. Rajia pun dilaksanakan tetapi hasilnya nihil uangku tidak juga
ditemukan.
“Ani, ini uang untuk kamu. Ibu tidak ingin kalau kamu tidak
mengikuti ujian ini hanya karena belum melunasi administrasi.” Kata Ibu
“Maaf bu terima kasih, tapi Ani tidak ingin merepotkan ibu.
Biar nanti Ani bekerja lagi untuk mengumpulkan uangnya.” Jawab Ani
“Tidak Ani, kamu ambil saja. Waktu ujiankan tinggal 2 hari
lagi. Kamu tak perlu menggantinya, Ibu ikhlas memberikannya untukmu.” Kata Ibu
“Benarkah bu, terima kasih banyak bu.” Kata Ani sambil
menyalami Ibu wali kelasnya.
Ujian pun tiba, syukurlah aku bisa mengikuti ujian. Aku
harus meraih nilai ujian tertinggi, sebab aku tidak ingin mengecewakan orangtua
serta para guruku. Ujian pun berakhir. Beberapa bulan kemudian hasil ujiannya
keluar, pastinya aku dan teman-teman sangat gugup dan penasaran dengan hasil
yang diperoleh. Pada hari Senin hasil ujiannya diumumkan sekaligus pengukuhan.
“Anita Salsabila, kamu memperoleh nilai tertinggi ujian
tahun ini” Kata Kepala Sekolah. Ketika itu aku sangat terkejut dan langsung
mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Di sana juga ada ayah dan Ibuku serta
kakak dan adikku menghadiri acara pengukuhannya. Aku sangat bahagia ketika
melihat senyum mereka yang
dipersembahkan untukku. Tidak sengaja air mataku pun mengalir membasahi
pipiku, melihat mereka bahagia. Karena bagiku kebahagiaan mereka adalah
kebahagiaanku.
“Semoga
aku bisa membuat kalian senyum bahagia selamanya amin”. Batinku.
Komentar
Posting Komentar