Batamat Qur'an
BATAMAT
QURAN SEBAGAI PROSESI PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BANJAR
Oleh
: Siti Anita (1201291138)
Masyarakat Banjar dikenal sebagai masyarakat yang religius.
Sehingga segala kegiatan-kegiatan penting seperti membuat rumah, pergi haji,
memperbarui (mehanyari) beras yang baru diketam dan sebagainya selalu dimulai
dengan acara-acara keagamaan seperti shalat hajat, selamatan, syukuran dan
sebagainya. Salah satu acara keagamaan yang juga sering dilaksanakan oleh
masyarakat Banjar adalah batamat Quran.
Batamat Quran adalah
salah satu upacara keagamaan yang ada di masyarakat Banjar (Kalimantan
Selatan). Acara ini dilaksanakan sebagai tanda bahwa seseorang telah
menyelesaikan pelajaran membaca al-Quran. Di masyarakat Banjar acara batamat
Quran tidak hanya dilaksanakan ketika selesai belajar al-Quran, tetapi juga
dijadikan sebagai salah satu prosesi perkawinan.
Jadi, pada saat seseorang ingin melaksanakan acara resepsi perkawinan,
sebelum acara resepsinya dilaksanakan, terlebih dahulu calon pengantin
mengadakan acara batamat Quran. Acara ini juga bisa diikuti oleh beberapa orang
selain si calon pengantin, asalkan orang itu sudah selesai mempelajari al-Quran
sampai khatam.
Adapun pernak-pernik acara batamat Quran sebagai bagian
dari prosesi perkawinan ini umumnya lebih beragam daripada acara batamat biasa.
Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan pada saat batamat diantaranya:
Al-Quran, rehal, lapik, dan bisa juga menggunakan sajadah minimal 3 lembar
boleh lebih. Kemudian ditambah kain putih diatasnya dan pisau atau gunting
dibawah lapik, beras ketan yang sudah matang ± 3 liter dan payung kembang
bertingkat bisa 1, 3, 5, atau 7 rangkap, tergantung keinginan.
Lapik (kain putih),
beras ketan yang sudah matang, ayam yang sudah dimasak satu ekor atau apabila
tidak ada bisa diganti dengan telur 7 sampai 40 biji. Semua bahan-bahan ini
merupakan bagian dari saji yang akan dihadiahkan kepada guru mengajinya. Hal
itu dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada sang guru karena telah
mengajari si calon pengantin sampai selesai belajar al-Quran.
Selanjutnya,
pada saat batamat Quran, calon pengantin menggunakan pakaian muslim atau
muslimah (kalau laki-laki menggunakan baju koko dengan sarung dan peci,
sedangkan perempuan menggunakan jilbab dengan bulang, dan baju kurung atau baju
kurung basisit dan bisa juga menggunakan pakaian haji).
Adapun waktu
pelaksanaan acara batamat Quran ini, biasanya dilaksanakan pada malam hari
menjelang acara resepsi perkawinan. Namun demikian, acara ini juga bisa
dilaksanakan pada pagi hari sebelum kedua mempelai duduk bersanding.Baik bagi
calon pengantin laki-laki maupun pengantin perempuan yang digelar di tempat
terpisah (di rumah mempelai masing-masing).
Selanjutnya, masuk
pada acara pelaksanaannya. Acara ini dipimpin oleh guru mengaji dan dihadiri
oleh teman dan handai tolan. Acara batamat Quran pada prosesi perkawinan sama
saja dengan batamat Quran ketika menyelesaikan belajar Al-Quran. Si calon
pengantin membacakan surah ad-dhuha sampai surah an-nash. Setelah itu, guru
mengaji membacakan doa khatam Quran. Dan dilanjutkan dengan syukuran dengan
disuguhkan hidangan bagi semua tamu yang datang.
Namun, jika dilihat
dari kondisi kehidupan sekarang. Batamat Quran sudah mulai jarang dilaksanakan
pada prosesi perkawinan. Hal ini bisa terjadi salah satunya karena si calon
pengantin sudah pernah batamat Quran sehingga tidak perlu lagi batamat ketika
ingin resepsi perkawinan. Ditambah lagi, tidak ada sanksi bagi orang yang tidak
melaksanakannya. Oleh karena itu, tidak apa-apa jika tidak dilaksanakan.
Tetapi, jika kita melihat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka
alangkah baiknya jika kita tetap melaksanakan acara batamat Quran ini pada saat
menjelang resepsi perkawinan. Nilai-nilai yang terkandung dalam acara ini
diantaranya:
·
Nilai
kekeluargaan: pada saat acara batamat Quran, orang-orang akan bertamu
menghadiri acara tersebut sehingga rasa kekeluargaan diantara satu dengan yang
lainnya semakin bertambah. Dan semakin terjalinnya silaturrahmi diantara semua.
Komentar
Posting Komentar