PENDEKATAN/MODEL/STRATEGI PEMBELAJARAN IPA YANG BAIK MENURUT ISLAM



PENDEKATAN/MODEL/STRATEGI PEMBELAJARAN IPA YANG BAIK MENURUT ISLAM
Oleh
Siti Anita

Menurut saya baik model inquiry, salingTemas dan keterampilan proses, ketiga-tiganya baik dalam mengajarkan IPA. Dan sesuai menurut Islam, karena dalam Islam sendiri diperintahkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan akan segala ciptaan Allah. Karena pada setiap ciptaan Allah terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.
            Dengan belajar IPA, seseorang akan mengerti dan memahami mengapa fenomena atau gejala alam itu terjadi, bagaimana bisa terjadi dan apa yang menyebabkan itu terjadi. Gejala-gejala alam itu dapat dipelajari secara ilmiah melalui pembelajaran IPA. Dengan mempelajari itu semua, dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri kita akan kebesaran kekuasaan Allah Swt.
            Hampir semua pembelajaran IPA tidak terlepas dari yang namanya keterampilan proses, khususnya keterampilan proses dasar. Dalam pembelajaran inquiry dan salingtemas pun terdapat keterampilan proses dasar, seperti mengamati, mengukur, dan sebagainya. Dan dalam pembelajaran salingtemas terdapat proses inquiry. Jadi antara keterampilan proses, inquiry dan salingtemas ketiganya saling berkaitan. Ketiganya cocok digunakan dalam pembelajaran IPA, karena ketiga model pembelajaran tersebut menekankan pada proses berpikir logis-kritis. Ditambah lagi dalam pembelajaran salingtemas yang menghubungkan pembelajaran dengan kondisi lingkungan yang ada dan mengajarkan kepada peserta didik agar peduli terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan dalil yang ada dalam al-Qur’an yaitu:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum ayat 41)
            Jadi, berdasarkan dalil Al-Qur’an di atas menjelaskan bahwa kerusakan di bumi itu kebanyakan disebabkan oleh perbuatan manusia. Dengan model pembelajaran salingtemas diharapkan agar peserta didik justru dapat menjaga lingkungan agar tetap terjaga keseimbangannya.
            Adapun penjelasan model pembelajaran tersebut dan langkah-langkahnya, yaitu:
A.    Inquiry
Pendekatan inquiry baik digunakan dalam pembelajaran IPA, karena proses pembelajaran IPA menitikberatkan pada suatu proses penemuan tentang gejala alam sehingga diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan proses mental, rasa ingin tahu, dan berpikir logis-kritis peserta didik. Dengan melakukan penemuan dan penyelidikan terhadap suatu fenomena atau gejala alam, rasa ingin tahunya akan semakin bertambah, berpikir logis-kritisnya semakin terasah dan kesadarannya akan besarnya kekuasaan Allah pun semakin bertambah. Model pembelajaran inquiry ada bermacam-macam, namun yang tepat digunakan untuk tingkat SD/MI adalah Guided Inquiry. Pada tingkat ini peran guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan penyelidikan sangat besar, guru berperan menentukan topik penelitian yang akan dilakukan, mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan topik yang akan diselidiki, menentukan prosedur yang harus dilakukan oleh peserta didik, membimbing peserta didik dalam menganalisis data, menyediakan worksheet yang telah berbentuk kolom-kolom sehingga peserta didik cukup melengkapi, dan membantu membuat kesimpulan.
            Langkah-langkah pembelajaran Inquiry sebagai berikut.
1.      Orientasi
2.      Merumuskan masalah
3.      Menyusun hipotesis
4.      Mengumpulkan data
5.      Menguji hipotesis
6.      Merumuskan kesimpulan.

B.     Pendekatan SalingTemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat/SETS (Science, Environment, Technology, and Society)
Menurut saya pendekatan ini baik dalam mengajarkan IPA karena tujuan model ini adalah untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang mampu menerapkan pengetahuan ilmiah dan mengamalkan nilai-nilai sains untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang dapat memecahkan masalah di lingkungan sekitarnya. Dan sistem sosial yang ingin ditingkatkan dalam pelaksanaan model pembelajaran SETS adalah sifat peduli lingkungan, kerjasama, dan toleransi dalam hidup bermasyarakat. Langkah-langkah pembelajarannya antara lain:
1.      Tahap invitasi, pada tahap ini siswa didorong untuk mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas yang berhubungan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan isu-isu di daerah sekitar lingkungan siswa, nasional, atau global.
2.      Tahap eksplorasi, pada tahap ini siswa dilibatkan secara aktif untuk membentuk konsep melalui konstruksi pengetahuannya sendiri melalui observasi, eksperimen, diskusi, atau surfing di internet. Pada tahap ini siswa diajak untuk memenuhi rasa keingintahuannya tentang masalah atau isu yang sedang hangat di masyarakat. Pada tahap ini pula siswa didorong untuk menggunakan keterampilan proses sains dalam mencari solusi terhadap permasalahan.
3.      Tahap penjelasan dan solusi, konsep yang telah dibangun oleh siswa digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisis masalah yang telah dilontarkan pada awal pembelajaran. Siswa dapat melaksanakan tindakan-tindakan konkrit yang didasari atas kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
4.      Tahap pengambilan tindakan, siswa menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk mengambil keputusan berupa kampanye atau ajakan untuk berbuat, laporan lisan atau tertulis.
Dan saya ingin menambahkan satu model pembelajaran lagi yang menurut saya juga baik dalam pembelajaran IPA yaitu:
C.    Model Pembelajaran Iqra
Model pembelajaran yang juga baik diterapkan dalam pembelajaran IPA yaitu model pembelajaran iqra. Pembelajaran Iqra adalah suatu model pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk aktif eksploitasi lingkungan yang ada di sekitarnya. Pada model pembelajaran iqra, sebelum memulai pembelajaran, peserta didik diajak untuk mengenal sifat-sifat keTuhanan. Dengan demikian, peserta didik akan sadar bahwa segala sesuatu atau ilmu yang dipelajari merupakan bukti keesaan Tuhan. Melalui pembelajaran iqra peserta didik dituntun untuk dapat melihat atau membaca segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah swt berupa alam semesta dan kekayaannya. Dengan pembelajaran seperti ini, diharapkan peserta didik akan dapat memahami atau bahkan menemukan konsep-konsep IPA tanpa meninggalkan atau mengabaikan konsep-konsep ketuhanan.
Menurut Ridho, langkah-langkah model pembelajaran Iqra terorganisasi dalam tiga langkah sebagai berikut.
1.      Eksplorasi
Menumbuhkan pemahaman hakikat ketuhanan dimulai dengan menanamkan rasa percaya adanya sesuatu yang dapat diteladani dalam belajar dan memotivasi peserta didik dengan sifat ketuhanan, seperti kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, sosial, kasih sayang, dan sebagainya untuk memberi tujuan sesuai objek yang akan dipelajari.
            Menumbuhkan pencarian hakikat manusia dimulai dengan menumbuhkan rasa tidak percaya yang dapat menimbulkan hipotesis dan mendorong peserta didik untuk dapat menemukan jawaban dengan berbagai cara, seperti pengamatan, percobaan, membaca, dan sebagainya.
2.      Konseptualisasi
a.       Memotivasi kembali bahwa jawaban peserta didik benar atas hipotesisnya dengan dilandasi sifat ketuhanan
b.      Penegasan atau perdefinisian
3.      Komunikasi
a.       Laporkan jawaban dalam bentuk tulisan, gambar, karya tulis lain.
b.      Presentasikan kepada teman atau orang lain.
Menurut Hamid, langkah-langkah dalam melaksanakan model pembelajaran iqra adalah:
1.      Peserta didik difasilitasi dengan alat, bahan, dan perangkat percobaan atau objek pembelajaran yang dapat digunakan untuk membaca gejala, fenomena, dan fakta alam, baik yang sesungguhnya maupun tiruan.
2.      Peserta didik mengamati dan menalar untuk menemukan masalah dan menggunakan jawaban sementara untuk masalah (merumuskan hipotesis).
3.      Peserta didik memecahkan masalah dengan mengumpulkan data yang relevan. (mengukur dan menganalisis data)
4.      Peserta didik dikondisikan untuk menemukan konsep.
5.      Peserta didik dikondisikan untuk membahas temuan (mempelajari teori-teori yang berhubungan dengan fakta alam).
6.      Peserta didik mengambil kesimpulan dari pembahasan yang telah mereka lakukan secara rasional dan objektif.
7.      Peserta didik mengkomunikasikan hasil pada pihak lain.
8.      Peserta didik dituntut untuk dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar