Yes Nikah, and No Pacaran. Menikah tanpa Pacaran agar semakin berkah

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh....
Hai, sahabat...
Gimana nih kabar kalian, semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

Rasanya sudah lama aku tak update tulisan di blog kesayanganku ini.  Iya, sudah cukup lama.... dan kali ini in syaa Allah, aku akan update tulisan lagi. Harapanku semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembacanya ya.... aamiin.
Pada kesempatan kali ini aku ingin menuliskan tentang pernikahan, mulai dari langkah pertama menuju pernikahan. Oke langsung aja kali ya... :D oya, mungkin disini aku lebih ke pandangan wanitanya ya, he. Karena aku kurang paham bagaimana pandangan laki-laki terhadap pernikahan.
Menikah, kata ini merupakan suatu ungkapan yang bisa membuat seorang wanita bahagia, mengapa? Karena menikah itu selain bernilai ibadah juga menyatukan dua insan yang berbeda, iya berbeda, mungkin sangat jauh atau sangat sedikit titik perbedaannya. Apapun itu, ketika sudah menikah in syaa Allah dua insan itu akan belajar memahami karakter masing-masing pasangan. Oleh karena itu jika nanti setelah menikah ternyata kita menemui hal-hal yang berbeda dan sangat berbeda sebelum kita menikah, itu merupakan hal yang lumrah, maka dari itu belajarlah untuk memahami karakter pasangan kita, jangan sampai hanya karena perbedaan itu membuat hubungan jadi kurang harmonis, jadikanlah perbedaan itu sebagai salah satu sarana kita untuk membuat hubungan kita dengan pasangan semakin harmonis. Aku lanjutkan ya, alasan wanita bahagia ketika mendengar kata menikah diantaranya karena dengan menikah wanita akan didampingi seseorang yang disayanginya dan juga menyayanginya, memperhatikannya, dan peduli kepadanya.
Nah, sebelum menikah kita harus mengenal terlebih dahulu siapa calon pasangan kita, takutnya nanti kita salah pilih pasangan. Cara yang diperbolehkan dalam Islam adalah dengan taaruf yaitu mengenalnya melalui orang-orang yang dekat dengan calon pasangan kita itu, khususnya orangtuanya. Orang-orang yang dekat dengannya selain orangtuanya adalah saudaranya (jika dia punya saudara), sepupunya, sahabatnya, temannya, tetangganya, dan orang-orang yang sering bermuamalah dengannya. Hal ini baik dilakukan wanita dan laki-laki yang akan memilih jalan untuk menuju pernikahan.
Selain itu, sahabat juga bisa bertukar biodata dengan calon pasangan kita dan sebaiknya pertukaran biodata itu dilakukan oleh mediator, mengapa? Karena untuk menjaga kita dan calon pasangan kita agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dan agar komunikasinya lebih berjalan efektif. Apabila pada saat pertukaran biodata tersebut kita merasa kurang cocok dengan calon pasangan kita atau sebaliknya, maka bukan suatu aib jika proses taarufnya dibatalkan dan saat itu pun kita belum ada ikatan apapun dengan calon pasangan kita.
Kemudian, jika proses taaruf awal sudah dilakukan dan kita merasa cocok maka barulah kita melalukan taaruf selanjutnya yaitu yang seperti kita bahas sebelumnya tadi dengan mengenalnya melalui orang-orang terdekatnya. Jika sudah oke, barulah kita akan melanjutkan ke proses khitbah atau lamaran. Nah, pada proses ini kita sebagai wanita tidak boleh menerima dua lamaran laki-laki sekaligus atau menerima lamaran laki-laki lain padahal sudah dilamar oleh seorang laki-laki. Ingat ya tidak boleh. Dan bagi laki-laki pun tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar oleh seorang laki-laki.
Sebaiknya setelah masa khitbah ini, kita percepat proses akad nikahnya agar kita dan calon pasangan kita resmi dan sah menjadi suami istri. Mengapa harus dipercepat? Karena untuk menjaga diri kita dan pasangan kita agar terhindar dari zina, biasanya orang yang sudah dikhitbah atau dilamar, mereka akan lebih intensif komunikasinya baik itu mengenai rencana akad nikah, walimah atau yang lainnya. Untuk menjaga agar hal-hal yang tidak baik tidak menghampiri kita dan pasangan kita, oleh karena itu proses akad nikahnya kita segerakan. Dan Rasulullah juga menganjurkan untuk menyegerakan pernikahan.
Setelah akad nikah dilaksanakan maka resmilah kita dan pasangan kita menjadi suami istri. Dan semua yang awalnya diharamkan sekarang menjadi halal untuk kita lakukan seperti berpegangan tangan, boncengan, SMS/WhatsApp-an, teleponan, nonton bareng dan lainnya. Dan berpegangan tangan bisa jadi pahala dan bernilai ibadah bagi kita yang sudah menikah, berbeda halnya dengan mereka yang belum menikah, bagi mereka yang belum menikah atau yang berpacaran jika melakukan hal itu maka mereka akan berdosa, karena mereka adalah dua insan yang berbeda jenis dan mereka tidak halal melakukan semua itu, mereka hanya boleh melakukan itu jika mereka sudah menikah.
Oya, setelah menikah sahabat akan punya sahabat baru yang punya profesi bertingkat-tingkat. Sahabat itu adalah suami kalian, suami kalian tidak hanya menjadi seorang suami tetapi dia juga menjadi teman, sahabat, kakak, pemimpin, dan ayah untuk anak-anak kalian berdua nanti jika dianugerahi keturunan. Suami kalian akan berperan ganda dalam hidup kalian dan dia juga punya tanggung jawab yang besar setelah akad terucap. Pesanku untuk para sahabat, jadilah istri sholehah yang patuh kepada suami, menyenangkan hati suami dan qanaah serta bersyukur terhadap pemberian suami. Jangan lupa, ada akhirat setelah kehidupan di dunia ini. Jika kita bisa menjadi istri yang baik untuk suami kita karena Allah, in syaa Allah kita akan masuk Surga-Nya Allah dari pintu mana saja. Maha Baik Allah dan Maha Benar Allah.
Salam ukhuwah untu para pembaca.... jika dalam tulisan ini terdapat banyak kekurangan, silahkan sahabat tambahkan di kolom komentar ya. Aku senang jika kalian memberikan masukkan terhadap tulisanku ini. Komentar atau sarannya yang membangun ya dan berguna bagi siapapu yang membacanya. Terima kasih. Wassalam......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Sosiologi

Batamat Qur'an